Saturday, 22 June 2013

Satu Pesilat UMRAH Masuk Final



Satu Pesilat UMRAH Masuk Final
PERAK - Satu pesilat UMRAH masuk final. Dia adalah Ramdani Hermansyah yang turun di kelas A berhasil mengalahakan pesilat dari Pahang pada babak semi final, Sabtu (25/5) malam, pada Kejuaraan Pencak Silat UPSI dan Jemputan Antarbangsa kali ke-4 2013.
Ramdani dengan mulus melaju ke final setelah menundukkan pesilat dari Pahang, Mahathir Bin Nor Khaferi, dengan skor telak 5-0. Di final, Ramdani akan berhadapan dengan pesilat dari Malaysia Elite, Mohamed Fikry Bin Mohd Noh.
Pesilat yang akan dihadapi Ramdani adalah pesilat yang pernah Ramdani hadapi di partai final pada kejuaraan yang sama pada tahun 2011. Pada waktu itu Ramdani menang dengan sekor 5-0. “Semoga pertandingan final kali ini Ramdani bisa mengulangi hal yang sama pada tahun 2011”, jelas pelatihnya, Riky. (rh)

Tiga Pesilat UMRAH Menang di Babak Penyisihan



Tiga Pesilat UMRAH Menang di Babak Penyisihan
PERAK - Tiga pesilat UMRAH Indonesia, Abdilah Sabrani, Agus Riatno, dan Ramdani Hermansyah berhasil masuk ke babak selanjutnya setelah berhasil mengalahkan lawan-lawannya dalam Kejuaraan Pencak Silat UPSI  dan Jemputan Antar Bangsa kali ke-4 2013 yang digelar di Kampus UPSI, Perak, Malaysia, Kamis (23/5).
Abdilah yang turun di laga kelas C berhasil mengalahkan pesilat dari Bangladesh, sedangkan Agus yang turun di laga kelas B berhasil menaklukan pesilat dari Labuan. Sementara nasib baik Ramdani yang turun di kelas A menang tanpa lawan, karena pesilat dari Kelantan mengundurkan diri.
Ricky, pelatih tim mengaku senang dengan kemenangan-kemenangan yang telah diraih pesilat-pesilatnya, meski  perjalan untuk menjadi juara masih jauh. “Mereka harus menang tiga kali lagi untuk mendapat juara satu”, jelas riky lagi. (rh)

Lima Pesilat UMRAH berlaga di Malaysia




Lima Pesilat UMRAH berlaga di Malaysia
TANJUNGPINANG - Pesilat UMRAH (Universitas Maritim Raja Ali Haji) berlaga dalam Kejuaraan  UPSI dan Internasional Pencak Silat Championship 2013 kali ke-4, yang dilaksanakan di Tanjong Malim, Perak, Malaysia, dari 22-26 Mei. Tim UMRAH di lepas  langsung oleh Rektor UMRAH di Kampus UMRAH Dompak, (20/5) sore.
Kejuaraan yang bertaraf Internasional, tahun ini diikuti 5 negara (Malaysia, Singapura, Vietnam, Indonesia dan Bangladesh) kemudian hampir diikuti semua negri yang ada di Malaysia.

UMRAH Indonesia menurunkan 4 atlet putra dan 1 atlet putri yang bertanding di masing-masing kategorinya. Mereka adalah Sariman yang turun di kategori jurus tunggal, Ramdani Hermansyah (Laga kelas 45-50), Agus Riatno (Laga kelas 50-55Kg), Abdilah Sabrani (Laga kelas 55-60Kg), dan Meilan Handayani (Laga putri kelas 45-50), yang dibawa 1 Pelatih dan 2 pengurus tim.
“Mereka harus bekerja keras dalam kejuaraan ini, karena atlet-atlet yang akan mereka hadapi adalah atlet-atlet yang berpengalaman. Seperti Malaysia, Singapura dan Vietnam, mereka menurunkan atlet-atlet nasionalnya”, jelas  Ricky selaku pelatih tim.
 

Thursday, 20 June 2013

SANG LEGENDA PENCAK SILAT INDONESIA



SANG LEGENDA PENCAK SILAT INDONESIA
Abbas akbar, itulah nama lengkapnya. Pria yang lahir di Jakarta, 6 November 1973 ini adalah sang legenda Pencak Silat yang sudah mengharumkan nama Indonesia sejak tahun 1986. Pria yang biasa akrab di panggil Abbas ini sekarang  menjabat sebagai Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB.IPSI) sekaligus Pelatih Nasional sudah banyak menelorkan pencak silat berprestasi termasuk menjadi juara dunia. Namun nama Abas Akbar tentu cukup fenomenal. Sikap rendah hati dan selalu mengoreksi diri sudah menjadi cermin hidup seorang Abas. Pesilat kelahiran Jakarta 6 Nopember 1973 dari pasangan Dja’far Hattamarasjid (ayah) dan Marice (ibu) ini dalam setiap bertanding selalu mengutamakan kejujuran dan sportivitas. Inilah yang menjadi motivasi bagi setiap generasi pesilat di Indonesia.
Kemenangan dan menjadi juara adalah sesuatu hal yang tak begitu penting. Buat apa meraih sebuah kemenangan dengan cara-cara tidak jujur atau jauh dari sportivitas. Artinya kita harus menang tanpa lawan merasa disakiti. ‘’Prinsipnya, lawan jusru harus dibuat tunduk secara terhormat dan bukan penasaran karena kalah atas kecurangan,”katanya.
Dalam setiap bertanding pun Abas senantiasa ingin tampil bagus sehingga wasit dan juri akan simpatik dan penonton juga turut simpatik. Caranya dengan hanya satu main sportif dibarengi teknik tinggi. Bahkan saat menang pun, Abas selalu introspeksi diri. Karena dia tak ingin menang sementara lawan protes dan penonton pun tak puas. Introspeksi atau koreksi diri itu penting apakah kemenangan itu meragukan atau untung-untungan. Kemenangan demi kemenangan yang kita capai sampai akhirnya menjadi juara sesungguhnya menjadi alat atau media untuk mengukur sejauhmana kita sudah menguasai latihan. Sebab, kerap kali antara hasil latihan dengan hasil akhir dalam suatu pertandingan tak sama. Melalui koreksi itu pula Abas akan segera mengetahui kesalahannya sehingga pada arena berikut tampil lebih baik lagi. “Pokoknya setiap kemenangan bagi saya untuk mengoreksi diri saya. Sedangkan arti kekalahan bagi saya justru sebagai motivasi untuk memacu diri agar lebih berlatih dan memperbaiki kekurangan,” katanya. Mengenal olahraga silat sejak duduk di bangku SD kelas 4 tahun 1983. Saat itu Abas sudah serius berlatih. Awalnya dulu di sekolah Abas dikenal suka berkelahi dan bandel. Orang tuanya justru menyuruh untuk bergabung berlatih silat. Dua tahun berlatih, Abas yang di lingkungan keluarganya dijuluki pendekar lincah ini langsung meraih prestasi. Pada Tahun 1985, tatkala Abas berusia 11 tahun sudah berpredikat juara nasional junior di Bali. Abas kemudian menceritakan memilih silat karena senang melihat latihan bela diri.Selain itu Pencak Silat mengajarkan ketaqwaan, kejernihan berpikir, mental dan mempertebal iman. Sebab pencak Silat umumnya membimbing insan ke jalan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan akhlak yang baik, kita dapat menjaga diri dengan baik pula. Abas beranggapan bahwa dengan Pencak Silat, selain berolahraga juga mengisi rohani dan keagamaan. Pencak Silat menurut Abas memiliki teknik yang lengkap. Mulai dari bantingan hingga tendangan ada pada pencak silat. Oleh karenanya, sejak total menggeluti cabang ini, Abas berjanji pada diri sendiri bahwa Pencak Silat itu adalah bagian dari kehidupannya. ‘’Kalau bisa terus berprestasi, saya tentu menggeluti dunia silat sampai seumur hidup ini.Karena itu saya berusaha menjaga kondisi secara maksimal,”papar karyawan Bank Sumsel ini.


Abas juga tak melupakan jasa kedua orang tuanya khususnya ayahnya. Ayahnya Dja’far paling berjasa dalam karir dan prestasinya selama ini. Dan dari seabrek prestasi yang telah direbutnya selama ini, Kejuaraan dunia tahun 1994, merupakan kejuaraan yang paling berkesan . Sebab pada saat itu di final kelas 55-60 kilogram, Abas bertemu dengan pesilat tuan rumah yang juga merupakan juara Thaiboxing, Apichat Sudamar dari Thailand. Pertandingan itu disaksikan Prabowo Subianto yang kini Ketua Umum PB. IPSI serta sejumlah petinggi Thailand lainnya.
Abas mengetahui kalau olahraga Thaiboxing itu merupakan olahraga keras yang dapat menghancurkan kaki dan muka. Namun Abas tidak gentar sedikitpun.Walaupun dengan muka berdarah dan kaki serasa hancur, Abas dapat memenangkan partai final itu. Ternyata silat dapat mengalahkan olahraga tradisional Thailand. Faktor penting dalam menghadapi pertandingan yaitu persiapan diri, termasuk pakaian harus bersih .Ibarat Prajurit, segala keperluan harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Abas tak lupa memohon lindungan Tuhan. ‘’Dengan Penampilan baik, seperti rambut, pakaian bersih akan menambah percaya diri dan keyakinan,” tutur Abas.